Senin, 30 Juli 2007

Prof. Dr. Nur Syam: Gerakan Islam Radikal Rugikan NU-Muhammadiyah

Menguatnya gejala fundamentalisme Islam yang saat ini menjadi fenomena di seluruh penjuru dunia memang bak jamur di musim hujan. Di Jawa Timur, fenomena penyebaran paham radikalisme Islam telah terjadi melalui beragam cara, salah satu diantaranya penyusupan melalui organisasi masyarakat (Ormas) Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Hal ini telah menyita perhatian intelektual Muslim, pemerhati Islam radikal dan Guru Besar Sosiologi IAIN Surabaya, Prof. Nur Syam, M.Si.

“Pasca Reformasi, fenomena gerakan radikalisme Islam di Indonesia, khususnya di propinsi Jawa Timur, berkembang sangat pesat,” katanya. Menurutnya hal ini terindikasi dari muncul dan berkembangnya beragama organisasi radikal.

Menurut Syam mereka cukup pandai memanfaatkan media dalam menyebarkan gagasan-gagasannya. Imbasnya gerakan mereka semakin kuat di masyarakat

Untuk lebih jelasnya berikut ini wawancara khusus kontributor Syirah Choirul Mahfud di Surabaya dengan Nur Syam di kantornya, Gedung Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa, 3 Juli kemarin:

Dalam pengamatan Anda sejauh mana gerakan fundamentalisme dan radikalisme Islam di Jawa Timur beberapa tahun belakangan ini?

Pasca Reformasi, fenomena gerakan radikalisme Islam di Indonesia, khususnya di propinsi Jawa Timur, berkembang sangat pesat. Hal itu, ditandai dengan muncul dan berkembangnya beragam organisasi Islam radikal melalui berbagai cara dan media, baik cetak maupun elektronik. Media massa telah mereka buat seperti bulletin dan majalah. Lalu, mereka sebar media itu ke setiap masjid, terutama tiap hari jum’at. Hampir semua masjid mendapat selebaran dan bulletin dari kelompok mereka. Akibatnya, pengaruhnya cukup kuat dan sangat pesat.

Organisasi apa saja yang bisa dikatagorikan sebagai kelompok gerakan Islam radikal dan fundamental tersebut?

Organisasi gerakan Islam yang dilabeli Islam radikal dan fundamental perlu dilihat terlebih dahulu dari dua sudut pandang. Pertama, adakah pelaku dan subjek gerakan itu. Kedua, adakah pengaruhnya bagi suatu masyarakat.

Mengenai pertanyaan pertama, di propinsi Jawa Timur ternyata ada gerakan seperti itu. Organisasi gerakan Islam radikal dan fundamental tersebut yang bisa diidentifikasi di antaranya adalah; Hizbut Tahrir (HTI), Majelis Mujahidin (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan lain-lain.

Organisasi Itulah sebagai pelaku. Sementara pengaruh organisasi tersebut bagi dinamika Islam di Jawa Timur lumayan kuat dari fase ke fase. Di zaman Orde Baru memang masih belum tampak jelas karena sistem, tetapi di akhir era Orde Baru mereka mulai berani menampakkan diri hingga era reformasi seperti sekarang ini kelompok itu terus berani menampakkan, melakukan pengaruh yang kuat dan penyebarannya serta bahkan ingin menguasai.

Siapa sajakah target dan sasaran gerakan radikalisme Islam, khususnya di Jawa Timur?

Semua kelompok, terutama masyarakat perkotaan, pelajar, mahasiswa. Di Surabaya, kelompok Islam radikal sudah merambah dan menguasai kegiatan mahasiswa kampus. Mahasiswa-mahasiswa kampus yang sudah banyak dipengaruhi oleh gerakan ini adalah kampus ITS (Institut Tehnologi Surabaya), (Fakultas) Kedokteran Unair (Universitas Airlangga), Unesa (Universitas Esa Tunggal), Universitas Hang Tuah, Untag (Universitas Tjuhbelas Agustus) dan lain-lain. Wujudnya adalah Lembaga Dakwah Kampus (LDK), KAMMI dan mereka semua memiliki jaringan nasional dan internasional, terikat maupun tidak.

Tidak hanya itu, belakangan gerakan Islam radikal juga sudah memengaruhi warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, khususnya anak-anak muda NU dan Muhammadiyah. Banyak aset NU dan Muhammadiyah yang direbut.

Akhir-akhir ini sudah banyak kasus mengenai hijrahnya warga NU dan Muhammadiyah mengikuti kelompok gerakan Islam radikal dan fundamental itu. Memang secara kultural adalah masih warga NU, tetapi bukan secara formal dan sudah sebagai anggota dan pengurus kelompok Islam radikal.

Misal saja, ada kasus bahwa bapaknya alumni Tebuireng, dan dosen. Tetapi justru anaknya jadi aktivis HTI, dan yang menjadi imam di rumah adalah anaknya bukan bapaknya. Menariknya lagi, Anak kiai jadi ketua FPI. Di salah satu pertemuan PBNU ada yang mengeluhkan sebagian pengurus mengundurkan diri karena sudah menjadi anggota dan pengurus organisasi itu.

Cara apa saja yang ditempuh kelompok Islam radikal, di Jawa Timur khususnya, dalam memengaruhi dan mengembangkan konsep dan gerakan ideologi mereka ke dalam Ormas Islam?

Kelompok ini sungguh luar biasa dan memiliki daya penarik kuat. Tetapi bisa dipahami sesungguhnya mereka menggunakan sistem yang saya sebut sebagai gerakan “taqiyah”, yaitu dengan cara memasuki dan membaur dalam sebuah kelompok. Setelah cara itu berhasil, lalu kemudian ketika mereka sudah memiliki taring, lantas dia menampakkan diri. Misalnya Di beberapa daerah, ada banyak pengurus NU yang sesungguhnya anggota kelompok gerakan radikal Islam itu.

Cara kedua yang ditempuh kelompok ini adalah menggunakan metode sel (sel system). Metode ini telah berhasil mereka jalankan dan sangat ampuh. Karena, mereka mendidik satu atau dua orang. Lalu, kemudian hasil didikan itu disuruh mengembangkan dan memengaruhi orang lain dan begitu seterusnya.

Apakah gerakan Islam radikal itu membahayakan dan bisa menjadi ancaman disintegrasi bangsa dan persatuan umat Islam di Indonesia?

Kalau targetnya itu adalah khilafah maka hal itu sangat membahayakan bagi NKRI. Apalagi ketika konsep ini diberlakukan dan dijalankan di negeri ini. Sebab, hal itu akan melahirkan ruang-ruang yang berbeda secara konstitusional. Saya ingin menyitir pada pertemuan guru besar se-Indonesia adalah perlunya menegakkan dan menjaga kesatuan atau integrasi bangsa berdasar pancasila dan UUD 1945.

Adakah tindakan persekusi atau kekerasan yang dilakukan kelompok ini secara bebas?

Saya rasa mereka belum berani melakukan hal-hal yang mengarah pada kekerasan, khususnya di daerah Jawa Timur. Sebab, kelompok mereka masih kecil, makanya cara yang mereka pakai dengan metode yang saya sebut sebagai teknik taqiyah. Seperti misalnya dengan menjadi jamaah masjid, lalu aktif jamaah dan kegiatan masjid lalu dipilih menjadi takmir. Setelah itu kemudia, merebut masjid dan memengaruhi umat.

Khalid Abou elFadl, pemikir dari Mesir, dalam The Great Theft mengatakan bahwa berkembang biaknya gerakan radikalisme Islam ditengarai oleh “diamnya” kelompok Islam moderat. Pertanyaanya, apakah fenomena kuatnya pengaruh Islam radikal di Jawa Timur sama seperti tesis Fadl tersebut?

Saya setuju dengan pernyataan itu, cuma dalam konteks Jawa Timur, tampaknya masyarakat belum banyak yang menyadari dan mengetahui rivalnya itu sebagai ancaman dan musuh. Sebab manakala umat Islam tidak memiliki musuh yang jelas secara langsung maupun tidak membuat kita tidak kritis, responsif dan tidak bisa bergerak apa-apa. Tetapi situasi akan berbeda ketika sudah jelas posisi kita manakala terkepung musuh maka gerakan perlawanan akan terjadi.

Lantas, bagaimana upaya ormas (NU dan Muhammadiyah misalnya) dalam menyikapi masalah tersebut?

Karena pengaruhnya di hampir semua kawasan dan pelosok Jawa Timur khususnya, maka Pak Ali Maschan Moesa sebagai ketua PWNU Jatim menggunakan langkah untuk membentengi pengaruh gerakan Islam radikal di sembilan titik di daerah Jawa Timur. Tapi maaf saya tidak tahu persis di mana saja daerah itu. Hal ini wajar, mengingat masjid dan mushala telah banyak diambil alih oleh kelompok ini.

Menurut saya pribadi, dalam konteks ini maka perlu ditempuh jalan alternatif yang dipelopori oleh anak-anan Muda NU dan Muhammadiyah. Bagaimana caranya anak-anak muda NU dan Muhammadiyah perlu menjalin kerjasama untuk menyelamatkan Islam multikultural yang rahmatan lil alamin. Hal ini penting, karena kita saat ini menghadapi suatu kenyatan menghadapi rival yang sangat jelas. Kesadaran bersama ini penting.

Praktisnya, melalui pelatihan dan penguatan pentingnya menyadari dan melaksanakan nilai-nilai pendidikan multikultural. Dalam konteks ini, perbedaan NU dan Muhammadiyah perlu diarahkan pada titik nol dan secara bersama-sama menghadapi rival bersama tersebut. Tentu saja, anak-anak Muda NU dan Muhammadiyah tersebut tidak perlu memakai cara-cara kekerasan tetapi gerakan penyadaran dan pencerahan. Mungkin dengan melakukan aksi bersama dan berkarya.

Terakhir, bagaimana menurut Anda masa depan gerakan radikalisme Islam di Indonesia, khususnya di Jawa Timur?

Menurut hemat saya, masa depan gerakan Islam radikal di Jawa Timur bisa semakin kuat dan sebaliknya bisa semakin melemah. Kondisi itu sangat ditentukan dan bergantung pada kita semua umat Islam di Indonesia, utamanya warga muslim di Jawa Timur. Apakah kita membiarkan atau mencegahnya. Pencegahan tanpa kekerasan melalui berbagai bentuk penyadaran adalah jalan terbaik. []

3 komentar:

eko mengatakan...

Ass.wr.wb..
Prof. Dr. Nur Syam yg baik,
Saya dhini, mahasiswa jurnalistik fikom unpad, bandung. Saat ini sedang mambuat tugas akhir tentang perselisihan NU dan HTI tentang ide khilafah islam di Indonesia.

NU secara terbuka menyatakan sikapnya untuk menolak ide tersebut karena mengancam keutuhan NKRI, sementara HTI berpendapat hal ini kental dengan kepentingan politis NU.

Bagaimana tanggapan Anda tentang hal tersebut? Mungkinkah ide khilafah diterapkan di Indonesia yg notabene negara majemuk? Pihak mana yang seharusnya mengalah?

Saya sangat mengharapkan jawaban dari Anda. Terimakasih sebelumnya.
Wass.wr.wb.

tOEs@StRa mengatakan...

Umat Nu atau Muhammadyah telah terbesar dan tertua diindonesia.sebagai ormas "senior" dinegara ini apa yang bisa dilakukan NU atau Muhammadyah untuk "membersihkan" dirinya? karena saya lihat sudah berlebihan dan terkesan gawat. padahal kita tidak sedang ada konflik.

ghobro mengatakan...

radikalisme merugikan citra Islam yang rahmatan lil alamin